Penampilan Eksekutif, Nasib Mencekik

0

Profesi mereka memang sama, Pramugari. Namun, seperti angkutan yang mereka tumpangi, nasib pramugari kereta dengan pesawat udara berbeda. Bak bumi dengan langit.  

Jarum jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Hembusan air conditioner (AC) membuat malam di dalam gerbong Kereta Api Argo Dwipangga begitu dingin. Disaat sebagian besar penumpang terlelap, di kesunyian gerbong yang ditingkahi gemuruh laju kereta, Iin, pramugari kereta bekerja. Ia dan beberapa kawannya dituntut untuk selalu siap melayani penumpang selama perjalanan.

Malam itu, ia membawa baki berisi segelas minuman dan sepiring makanan. Tanpa kehilangan keseimbangan iin terlihat terampil walau harus menyusuri gerbong kereta yang bergoyang. Ia bekerja tak kenal menyerah walau harus mondar-mandir dari satu gerbong ke gerbong lain. Iin bahkan harus melawan kantuk selama delapan jam perjalanan sejak Stasiun Solo Balapan hingga Stasiun Gambir.

Pramugari Kereta Api (dok. Ali/Sbck)

Pramugari Kereta Api (dok. Ali/Sbck)

Menurut iin, tugas pramugari kereta tidak berbeda dengan pramugari pesawat terbang. “Pramugari dituntut memberikan pelayanan memuaskan kepada penumpang. Menyediakan makanan dan minuman serta memberikan bantuan kepada penumpang selama perjalanan,” terang iin.

Namun, menurut gadis asal Solo ini, untuk menjalani profesi sebagai pramugari kereta bukan perkera mudah. “Paling tidak harus berpenampilan menarik dan punya wajah cantik atau ganteng,” ujarnya sambil tersenyum. Ia menambahkan, secara fisik pramugari harus memiliki tinggi badan lebih dari 160 untuk wanita dan 170 untuk pria.

Untuk menjadi pramugari kereta, seseorang harus harus lulus tes dan pelatihan yang diadakan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI). Selain tes tertulis dan wawancara, semua harus mengikuti pelatihan selama tiga bulan. Hal ini diakui Agustina, pramugari yang mendaftar dengan berbekal ijazah Diploma satu. “Saya mengikuti training pramugari kereta karena semua calon pramugari wajib mengkutinya,” terang Agustina. Namun, bukan dengan seleksi yang ketat dan berat profesi ini patut dibanggakan.

* * * *

Melihat sekilas penampilan pramugari kereta api, tak terlihat kesan sedikit pun mereka menderita. Bukan tanpa sebab, penampilan mereka perlente, iin dan kawan-kawanya di Argo Dwipangga misalnya. Ia mengenakan stelan blazer warna biru dipadu dengan celana panjang biru juga. Tak heran jika masyarakat menganggap pramugari sebagai profesi yang bergelimang dengan uang.

Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Upah yang diterima pramugari tidaklah besar. Menurut seorang pramugari kereta yang setiap hari hilir mudik Surabaya-Jakarta yang tidak mau disebutkan namanya, setiap bulannya ia menerima upah setara dengan upah minimum regional. Menurutnya, upah tersebut tidak sesuai dengan pekerjaan yang harus mereka lakukan.

Pramugari Kereta Api (dok. Ali/Sbck)

Pramugari Kereta Api (dok. Ali/Sbck)

Menurutnya,tidak hanya dalam perjalanan, selama persiapan hingga tempat tujuan, mereka dituntut bekerja. Dalam keadaan normal, mereka harus sudah siap dua jam sebelum kereta berangkat. Berdiri di depan pintu gerbong dan memberikan bantuan kepada penumpang sebelum kereta bertolak dari stasiun keberangkatan. Setibanya di kota tujuan, mereka hanya bisa beristirahat sejenak. Kemudian sore harinya sudah harus berangkat lagi.

Padahal, dalam perjalanan, mereka harus wara-wiri dari gerbong-ke gerbong. Membagikan makanan, selimut, atau mengantar makanan yang dipesan. Meraka harus bolak-balik dalam memberikan layanan bagi penumpang. Misalkan dihitung, entah berapa kilometer jarak yang mereka tempuh selama setiap harinya selama bekerja di atas kereta.

Mereka juga mengaku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan. Sebut saja Sahril. Menurut pengakuannya, ia pernah ditodong oleh penumpang karena dianggap terlambat ketika mengantar makanan. “Seorang penumpang bahkan pernah menodongkan pistol ke rekan saya, hanya gara-gara terlambat mengirim makanan yang dipesan,” ujarnya.

Lain lagi dengan yang dialami Agus. Lorinya pernah ditendang dengan kasar oleh penumpang. Sebabnya juga hanya persoalan sepele. Saat berjalan, lorinya menyenggol salah seorang penumpang. Menurutnya, lori tersebut susah berjalan karena terhalang travel bag penumpang. Karena menghindari travel bag, lori seberat lebih dari 50 kg tersebut justru menabrak penumpang.

Menurut mereka, penghargaan penumpang terhadap pramugari sangat minim. Tak sedikit penumpang yang kebanyakan dari kalangan atas tersebut berperangai penuh emosional. “Teman saya pernah menangis gara-gara dimaki-maki penumpang. Kamu ini kan di sini hanya pelayan. Jadi melayani yang benar. Dibayar berapa sih!” kata Yeni menirukan ocehan seorang penumpang yang marah pada rekannya itu.

Omelan penumpang semakin banyak diarahkan pada mereka saat kereta api mengalami keterlambatan. Padahal, keterlambatan kereta sama sekali tak terkait dengan tugas mereka. Belum lagi jika ada toilet yang bau, atau mesin pendingin yang rusak. Meski itu semua bukan tanggung jawab mereka, penumpang tidak mau tahu, dan justru melampiaskan amarah pada pramugari. Merekalah yang selalu kena damprat penumpang.

Menurut Agustina, dirinya hanya bersikap wajar menghadapi penumpang. “Penumpang adalah raja, titik. Itulah semboyan kami semua. Karena raja, harus dilayani sebaik-baiknya,” terang Agustina. “Tapi meski raja, kami berharap penumpang tidak berubah menjadi raja yang sewenang-wenang. Kami toh juga manusia. Punya rasa sedih, tersinggung, mengkal dan sebagainya. Kami dibayar tidak untuk dimaki-maki,” ujarnya menambahkan.

Hal senada diungkapkan iin. Bahkan menurutnya, tidak hanya sabar menghadapi penumpang juga sabar menghadapi resiko bekerja yang memakasanya untuk begadang semalam suntuk. Kalaupun bisa memejamkan mata, itu tidak lama. Ruang istirahat pun hanya ala kadarnya, berupa ruangan sempit berukuran dua kali dua meter yang diisi lima orang. “Jadi kalau sedang bertugas, istirahat dan tidurnya mencuri-curi waktu kalau sedang kosong tugas di dalam kereta” terang iin.

Bagi mereka yang laki-laki lebih parah lagi. Tidak ada ruang istirahat untuk mereka. Jika ingin meluruskan badan barang sejenak, mereka harus mencari tempat kosong. Seringkali mereka harus melepas penat di tempat sekenanya karena kereta penuh. Restorasi yang biasa menjadi wilayah mereka-pun seringkali dipakai penumpang.

Pramugari Kereta Api (dok. Ali/Sbck)

Pramugari Kereta Api (dok. Ali/Sbck)

Namun di luar hal itu semua, Iin dan teman-temannya merasa cukup enjoy dengan pekerjaan yang mereka geluti tersebut. pramugari ini merasa senang bisa bertemu dengan banyak orang dari lapisan sosial menengah ke atas seperti artis ataupun tokoh-tokoh nasional yang sering menggunakan jasa kereta api. “Saya pernah bertemu dengan rombongan grup Sheila on 7,” terang Agustin berbagi cerita.

Pengakuan berbeda datang dari iin. Menurutnya, ia merasa senang karena banyak membantu orang lain. ia pernah membantu seorang nenek dari India yang kerepotan. Ia membantu nenek tersebut mengangkat barang-barang bawaannya, “sehingga ketika turun di stasiun tujuan, nenek tersebut memberi manisan sebagai tanda terima kasih-nya,” ujar iin.

Terlepas suka duka tersebut, pramugari kereta banyak berjasa bagi penumpang. Ketika malam semakin larut dan udara dingin semakin menusuk tulang, mereka membagikan selimut. Dan, begitu mendekati stasiun tujuan, mereka juga membangunkan penumpang. Mereka bagikan secangkir teh panas untuk menghangatkan tubuh. Terakhir, begitu tiba di stasiun tujuan, mereka pun kembali berdiri di depan gerbong. Menebar senyum, mengucapkan selamat jalan sampai tujuan kepada para penumpang

Melihat apa yang telah dilakukan para pramugari kereta, rasanya tidak pada tempatnya bila penumpang terlalu mengharapkan pelayanan lebih kepada mereka. Apalagi menyampaikannya dengan cara memaki-maki. Penampilan memang eksekutif namun nasib mereka masih mencekik.

Reporter            : Ali/Sbck
Sumber             : courtesy tabloidkampus.com
Editor                : eddy j soetopo

Share.

About Author

Leave A Reply