Jazz Rasa Sambal Balai Soedjatmoko

0

Solo, suarakeadilan.com – Bagi pengemar musik jazz, kehadiran pemusik yang tergabung dalam Solo Jazz Society tentu tak asing. Selain digawangi mahasiswa seni gabungan, Solo-Jogja, genre musik yang disajikan setiap kali manggung di Balai Soedjatmoko beragam. Apalagi perhelatan para musisi jazz yang manggung setiap dua bulan sekali itu, dimainkan anak muda berdandan sak-karepe dewe, tentu menjadi daya pikat tersendiri.

Bisa jadi pula paguyuban ngejazz di Kota Bengawan itu  satu-satunya yang diminati penonton muda belia, ketika mereka komplit manggung bareng dengan membawa peralatannya sendiri.  Tidaklah mengherankan bila selasar depan Balai Soedjatmoko disesak-padati para pengemar jazz, campuran ABG-orang tua.

Tak hanya ABG (anak baru gede) yang terpaku di kursi lipat hingga usai pertunjukan Jazz hingga larut malam, tetapi tiyang sepuh pun dibuatnya lenggut-lenggut mengikuti alunan musik Brasil  Tidaklah berlebihan bila malam itu, Rabu (16/9), pengelola Balai Soedjatmoko memborong lagu-lagu musisi Brazil.

Penampil musisi lokal Solo-Jogja, yang mendominir pertunjukan jazz di Balai Soedjatmoko, tentu akan terasa ciamik andai saja peniup saxophone asal Jerman mau berlama-lama nimbrung sampai tuntas. Sayangnya, Hans Buyer sang pengelana peniup saxopone cuma menyuguhkan hanya satu lagu.

“Sayangnya tiupan saxophone wong londho itu sekali. Andai saja dia mau niup sampai larut malam, tentu jazz rasa sambal –ech kliru Samba ding–, pasti akan gayeng,” ujar Vioneta, mahasiswi ISI Jogja.

Apa yang dinikmati Vioneta bukan mengada-ada. Genre musik jazz bergaya samba, yang dipelesetkan Vioneta menjadi sambel itu pun juga dinikmati peneliti musik keroncong asal Australia, Lancel Lessel.

“Sangat menarik. Musisinya masih muda. Dan yang lebih menarik mereka melantunkan lagu lawas seperti ‘Girl from Ipanema’. Sayangnya karya Carlos Santana yang lain Black Magic Women, tak terdengar. Kalau saja itu yang dinyanyikan, pasti akan terasa pedas dan enak dinikmati,”ujar dia

Pengelola Balai Soedjatmoko, Yunanto, menyambut baik kritik dan saran penonton yang bersedia hadir dalam pentas jazz dua bulan sekali. “Memang kita akan terus menampung suara yang tak terdengar dari masyarakat. Pokmen, kita tetap ngejazz bareng sambil wedangan gratis dan makan sego kucing pedes sekenyangnya sambil bersamba ria.”

Penulis : Eddy J Soe
Editor : Eddy J Soe

Share.

About Author

Leave A Reply