Generasi Muda Melihat Tragedi 65

0

Peristiwa G30S tahun 1965 sudah berlalu selama lebih dari limapuluh tahun, namun peristiwa tersebut hingga sekarang masih menyisakan banyak pertanyaan, telah banyak sekali sejarah dibelokkan oleh pemerintah yang berkuasa terkait dengan kejadian sesungguhnya di tanggal 1 Oktober 1965, kebenaran mengenai siapa dibalik peristiwa tersebut  tetap tidak terungkap hingga sekarang, hanya ada satu kesimpulan dari pemerintah bahwa PKI terlibat dalam pembunuhan ketujuh pahlawan revolusi di Lubang Buaya dekat kompleks pangkalan Halim Perdana Kusuma.

Setelah kejadian tersebut muncullah sejarah kelam bagi bangsa ini dimana orang-orang yang merupakan simpatisan PKI ataupun orang-orang yang dituduh PKI dipenjara tanpa melalui suatu peradilan, tidak hanya berhenti disitu saja, banyak dari mereka pada ahkirnya disiksa, diperkosa, dirampas harta kekayaannya, dibuang di pengasingan, bahkan dibunuh secara keji, hingga sekarang jumlah korban tewas dari peristiwa pasca G30S 1965 tersebut belum dan mungkin tidak akan pernah diketahui jumlah pastinya, angka tertinggi yang pernah diklaim oleh Sarwo Edhi Wibowo adalah sebanyak tiga juta orang simpatisan PKI dibunuh pada waktu itu.

Setelah peristiwa tersebut berlalu  banyak sekali pembelokan sejarah yang dilakukan oleh pemerintah orde baru, melalui film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI film propagandis yang menggambarkan begitu kejamnya PKI melakukan penyiksaan terhadap para Pahlawan Revolusi dimana sempat menjadi film tontotan wajib yang ditayangkan setiap malam tanggal 30 September hingga jatuhnya rezim Soeharto, film tersebut juga diwajibkan ditonton oleh anak sekolah padahal film tersebut mengandung unsur-unsur kekerasan, film yang cukup sadis untuk ditonton oleh anak-anak karena begitu vulgarnya adegan kekerasan yang ditampilkan serta efek-efek darah yang begitu mengerikan.

Bagaimanapun film ini telah berhasil sebagai sebuah film propaganda di mana Soeharto tampil sebagai juruselamat bangsa dan PKI adalah monster yang kejam, bengis, serta tidak berperikemanusiaan, hal inilah yang terus menerus ditanamkan kepada masyarakat saat itu sehingga stigma terhadap PKI begitu hebatnya, tidak berhenti di situ saja para korban yang selamat pada massacre yang terjadi di tahun 1965-1966 tetap mendapat stigma negatif dari masyarakat luas, banyak dari mereka memperoleh pengucilan serta perlakuan diskriminatif hanya karena mereka dahulunya menjadi tahanan politik, stigma buruk terus melekat terhadap mereka meskipun kejadian tahun 1965 sudah puluhan tahun berlalu.

Selain melalui film pemerintah orde baru juga Pasca ambruknya kekuasaan Soeharto pada tahun 1998  munculah era keterbukaan dimana informasi dapat mudah diakses, begitu pula literatur atau buku-buku mengenai peristiwa 1965, dengan demikian akses pengetahuan masyarakat mengenai sejarah yang terjadi pada tahun 1965 semakin terbuka lebar.

Banyak anak muda yang mulai sadar serta kritis menuntut mengenai pelurusan sejarah pada peristiwa G30S 1965 hingga pembantaian yang terjadi pasca G30S, upaya-upaya agar dapat membawa para pelaku ke pengadilan telah dilakukan oleh lembaga negara, namun hingga sekarang pun masih menemui jalan buntu.

Laporan hasil penyidikan oleh Komnas HAM terkait pembantaian yang terjadi ditahun 1965-1966 yang disampaikan pada tahun 2012 ke Kejaksaan Agung dikembalikan dengan alasan bukti-buktinya tidak kuat, upaya pengadilan seolah selalu menemui jalan buntu. Lalu bagaimana dengan anak muda memandang mengenai pembantaian yang terjadi pada tahun 1965 – 1966?

Banyak anak muda yang lahir pada tahun 90-an hampir-hampir tidak merasakan zaman orde baru, tidak mengalami juga masa dimana diwajibkan untuk menonton film  Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI, banyak para pemuda generasi 90-an pada ahkirnya memperoleh informasi mengenai peristiwa 1965 sebatas upaya makar yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia terhadap pemerintahan Republik Indonesia yang sah.

informasi ini diperoleh melalui kurikulum pelajaran sekolah dimana hanya diajarkan mengenai peristiwa pembantaian terhadap para pahlawan revolusi serta upaya penemuan para korban serta siapa yang menjadi dalang dalam peristiwa tersebut, tentu saja berdasarkan versi sejarah orde baru pelakunya adalah Partai Komunis Indonesia, dan pembahasan sejarah mengenai peristiwa tahun 1965 hanya berhenti sampai disitu saja, padahal peristiwa yang jauh lebih besar dan mengenaskan terjadi pasca Gerakan 30 September, peristiwa yang hampir terjadi di seluruh wilayah Indonesia yang mengakibatkan 300.000-3.000.000 orang tewas, hingga ratusan ribu lainnya mengalami penderitaan dalam penahanan yang dilakukan tanpa melalui proses peradilan, penyiksaan, kerja paksa, kekerasan seksual, perampasan terhadap harta benda miliknya, pencabutan kewarganegaraan, dan tindakan-tindakan keji lainnya, hal-hal seperti itulah yang tidak pernah diungkap melalui buku-buku pelajaran sejarah, padahal hal-hal seperti inilah yang justru layak diketahui oleh para pemuda sekarang bahwa bangsa ini pernah melalui suatu sejarah yang begitu kelamnya agar jangan sampai di masa depan terulang kembali peristiwa keji tersebut.

Untuk itulah maka sangat perlu agar negara mulai mengubah kurikulum sejarahnya mengenai peristiwa pembantaian yang terjadi pada tahun pasca Gerakan 30 September 1965 mengingat hingga sekarangpun kata-kata G30S/PKI masih melekat  pada buku mata pelajaran sejarah, padahal terkait dengan pelaku utama Gerakan 30 September hingga sekarang pun tidak pernah terungkap, dengan mengubah hal tersebut maka dapat disebut sebagai suatu langkah awal bagi pelurusan sejarah.

Mengingat banyak pemuda yang hanya memperoleh informasi mengenai peristiwa yang terjadi pasca Gerakan 30 September melalui buku-buku pelajaran sejarah yang hingga saat ini masih diragukan akan kebenarannya, pemuda saat ini akan sangat kurang sekali pemahaman mengenai peristiwa yang terjadi pada tahun 1966-1965, hal ini diperburuk lagi kecenderungan anak muda jaman sekarang yang jarang atau bahkan enggan untuk membaca buku, maka hal yang perlu dibangun untuk pemuda sekarang adalah rasa keingintahuan terhadap sejarah.

Memang pada masa kini untuk memperoleh informasi sejarah yang terjadi pasca Gerakan 30 September jauh lebih mudah mengingat sudah tidak ada lagi restriksi dari pemerintah terhadap segala bentuk arus informasi, hal ini merupakan ekses baik pasca ambruknya pemerintahan Soeharto. Informasi mengenai peristiwa yang terjadi pasca Gerakan 30 September tahun 1965 dapat dengan mudah diakses melalui media seperti televisi, koran, majalah maupun internet, media-media tersebut tentunya dapat menjadi sumber informasi bagi  pemuda masa kini untuk menggali lebih jauh sejarah yang selama puluhan tahun ditutupi oleh pemerintahan orde baru.

Khususnya informasi yang diperoleh melalui internet, mengingat di era kemajuan digital informasi dapat lebih mudah diperoleh melalui internet, melalui internet terdapat berbagai macam literatur baik dari dalam negeri maupun luar negeri, namun tidak semua informasi di Internet selalu benar, sehingga tetap diperlukan cara berpikir secara logis dan kritis oleh para pemuda terkait dengan menyikapi informasi yang berasal dari internet. Selain melalui Internet hal yang juga nampaknya lebih menarik bagi para pemuda untuk memahami realita yang terjadi pada tahun 1965-1966 adalah melalui film-film dokumenter, sejak kemunculan film dokumenter seperti Jagal kemudian dilanjutkan dengan film Senyap nampaknya semakin menambah animo pemuda guna lebih mencari tahu mengenai peristiwa pembantaian yang terjadi pasca Gerakan 30 September, hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya diskusi yang dilakukan di kampus-kampus guna membahas film tersebut.

Hal-hal seperti diskusi membahas pentingnya mengungkap sejarah masa lalu yang dilakukan oleh para pemuda inilah yang perlu lebih digalakkan lagi, mengingat masih banyak pemuda yang belum memahami secara mendalam mengenai peristiwa sejarah yang terjadi pasca Gerakan 30 September 1965, diskusi-diskusi inilah yang pada ahkirnya dapat meningkatkan sikap kritis dari para pemuda.

Bagi generasi muda penting artinya belajar sejarah bangsanya sendiri. Sejarah peristiwa yang terjadi pada tahun 1965-1966 di Indonesia. Sejarah yang telanjur dibelokan sedemikian rupa, dan baru terungkap lantaran literatur dari sumber lain mengungkap kebenaran di baliknya.

Apabila generasi muda mau belajar sejarah masa lalu bangsanya, terkait peristiwa tahun 1965-1966, diharapkan perjuangan survivor –penyintas—untuk meluruskan sejarah demi keadilan tercapai. Meski banyak diantara mereka telah mendahului menghadap sang khalik, perjuangan mereka akan diestafetkan penerusnya untuk mengungkap kebenaran.

Penulis : Pramudi Adi Negoro
Editor   : Eddy J Soe

Share.

About Author

Leave A Reply